ketika senyum tak lagi bersandar pada kejujuran....
maka jazad pun kan turut bungkam...
dan tak mampu lagi bersekutu dengan gerak yang bijak...
segalanya memang fana...
tapi akan lebur ketika realita hidup yang keras ini berbicara...
dan hanya orang bijak yang mampu menelaah hidup yang penuh dinamika ini
melangkahlah dengan bijak
lalu rasakan betapa segalanya itu adalah satu
jejakkan tapak kakimu dengan indah
kemudian ajari dirimu lebur dalam ketiadaan
(Makassar,20082004)
hembuskan nafas kasih sayang dalam setiap gerak aktifitas kita
lalu rasakan bahwa betapa hidup ini terlalu indah dibuat susah
(Makassar,21082004)
cobalah bernafas...
lalu jadikan nafasmu itu sebagai hembusan kreatifitas yang imajinatif
maka titil-titik nafasmu itu akan menjadi air kehidupanmu....
bersyukurlah ketika cinta menyapamu...
setidaknya,karena engkau merasakannya
leburlah takbirmu dan mesrakanlah
agar kau bisa rasakan sang pencinta,yang dicinta dan cinta itu sendiri menyatu
(Makassar,20082004)
jadikan segalanya menjadi indah dalam himpunanmu
jika hatimu jengah dan terperangah
dan obyek pandanganmu tersekat oleh kedirian...
maka karaktermu memburam tak bermakna
tersemailah bulir-bulir cinta karena jazad terkoyak rasa rindu
lalu tertuntun mencari setitik cahaya
diri teringkarkan...lalu ego menjamah
merajut jiwa-jiwa tanpa cahaya
titik mengembang,penuh pijaran
berkejaran dalam kelopak senyumNya
(makassar,10082004)
lelah menyisir peluh...
lamat terkepal kejujuran..
cahaya terjuntai dalam kelopaknya,
meskipun tanpa kepakan sayap
mazmur rahasia tak bertutur karena senja kian dekat
gemulailah keindahan...
karena selamanya kita berpijak dalam bijakNya
dendam menguap lalu kembali ke tarikan intinya
cinta terbujuk samsara ....
dan luka mengendap dalam bisu
rindu membujur tanpa kata yang termaknai
rebahlah jiwa-jiwa yang tampak lusuh
ketika malam terseret waktu
jengah...lalu sang penggila enyah tanpa jejak
(Makassar,18092004)
Bijak bestari tatkala rasa sewangi kesturi
tarian teofani terpecut rindu dendam
karena sang penggila merebahkan kesendiriannya...
rindunya terjejak di penghujung waktu....
(Makassar,19092004)
menyembah rasa, sang penggila tercenung tak merasa
menimang cinta,majenun tak tercipta
jika rangkulanNya tak terasa,
maka pecutlah jiwamu ke intinya
karena cintaNya bertabur cahaya
(Makassar,20092004)
rindu terkepal,jika cahayaNya membungkam
mati pikiran karena logikaku bertaman
dendam tersulam ketika keniscayaan adalah keperiadaan yang membusur
maka lendutan jiwa mengapung tanpa suara...
(Makassar,20092004)
jangan kamu redupkan cahaNya,
ketika cintaNya datang menyapamu
karena boleh jadi itu adalah awal himpunanmu
tapi cobalah selami lautan TajalliNya
mungkin DIA akan menuntunmu memasuki altarNya
(Makassar,21092004)
jika jazadmu membuni dan hatimu melangit,
maka rasakanlah betapa DIA begitu indah,
seperti indahnya awan ketika mendenting...
senyumNya mengelopak....
dan kamu hanya bisa bertutur tanpa kata-kata
(Makassar,21092004)
terbeber keindahan dalam manifestasiNya
tergelar cinta pada penyaksianNya..
sasaran pandang berthawaf mengelilingiNya,
lalu...jiwa-jiwa samawi mengecap manisnya keabadian
lalu mengapa hati tercerabut dan nafs teringkarkan?
ke mana jiwa-jiwa itu berpulang,
ketika sapaan cinta tak tergubris?
kapan jiwa-jiwa bercahaya kembali
di ketika titik cinta terhijab dari penyaksian?
(Makassar,22092004)
Rebahkan jazadmu jika penat menderamu,
semoga di taman Firdaus kamu bertemu Sang pangeran
lalu dia mengecup letihmu
esok kamu bangun,embun terjentik
dan menyambut bahagiamu penuh cinta..
(Makassar,23092004)
tak kuperkenankan nestapa merenggut kebahagiaanmu
karena kuyakin cintaNya meliputimu
walaupun kamu lelah mencariNya,
sayap malaikatNya akan tetap menaungi rindumu
(Makassar,24092004)
semburat cahaya sang mentari,
menerpa benakmu yang tertawan
pikirku, itu adalah tanda cintaNya,
tapi keresahan masih mengawaniku
manakala semburat itu semakin menggumpal
terpetiklah tunas rinduku,
ketika sang abdi memapah jiwaku yang tertabir itu
terbersitlah rasa keabadian begitu nestapa menuturiku
lalu mengapa hati tertusuk,
jika itu memang pertanda dariNya?
sebegitu sukarkah jalan keabadian?
(Makassar,25092004)
Tuanku datang mengabariku tentang jalan keabadian
lalu aku menyapanya dan berkata
kabari aku jalan keabadian itu,
karena bagaimanapun aku adalah tetap AKUMU
lalu sang tuan bertutur padaku,
katanya,....temukan air kehidupanmu!!
(Makassar,25092004)
No comments:
Post a Comment