Kurasakan betapa rinduku semakin tegar kepadanya. Ketika penat mendekapku semakin deras, aku kelu dalam pesonanya. Repihan hatiku turut mengelupas bahwa ia sangat perkasa mengepakku. Dibantingnya kedirianku dalam lengkungan kepapaan. Dihempasnya wujudku tanpa arah, tanpa bentuk. Kelopak indahku teraniyaa..terpasung dalam pemaknaan yang kosong. Sang penabur citra terkoyak dalam belenggu nestapa. Kapan yang dicitrai menjentikkan tarian teofaninya? kapan ia yang tak terbentuk membentuk wewujudannya? kapan kelopak cintanya membentuk pesona adicitra? lalu….sang penabur citra mulai belajar bagaimana membuat penat terasa menjadi lebih indah..diajarnya dirinya bagaimana menciptakan kebekuan ketika lebur mengganyang kedirian…
Diajarnya dirinya mencari titik putih ditengah pekatnya gulita..diajarnya dirinya beranjak tanpa gerak..diajarnya dirinya tegar tanpa merapuh..diajarnya dirinya gulita tapi menerangi..dipetiknya bijak dari khazanah cintanya..direngkuhnya damai dari perbendaharaan citranya..
lalu sang penabur citra pun semakin erat mendekap penatnya…tangguh rindunya mengelopak…tegar cintanya menyemai…teguh indahnya menguncup…bersemayamlah jiwa-jiwa dahaga dalam rengkuhan letihnya..disematkannya tanda anugerah sang pencitra yang unik..citra melekat dalam adikaryanya…peluh bersimbah rindu terbungkam dalam altar kebijaksanaannya..ego tertelunjuk dalam ketidakberdayaan..jemari menari membentuk sketsa tak bergambar. Dibesuknya nestapa yang telah tergeletak tak berdaya dalam pekatnya malam..
warna terpasung dalam bingkai penyerupaannya..bentuk terpenjara dalam polesan tangannya..ruang terpatri sangat kokoh dalam gelegar keterusikannya. Damai terusir dari wadahnya…melangkah tak berdaya karena tak ada lagi yang mencarinya…
damai berteriak protes karena tak ada lagi yang mencitrainya secara utuh…
ketika damai tertanggalkan oleh banyak yang meninggalkannya, maka dia pun menangis dalam nestapanya..tak ada lagi yang merawat damai dan menyemaikannya penuh cinta…
masih adakah orang yang sanggup mendamaikan kedamaian? Masih adakah orang yang mampu menapakinya penuh gairah…sang penabur citra pun menengok di sudut pemaknaannya…
damai itu indah ketika letih semakin mencumbu…damai itu lebur ketika wanginya menyeruak dalam kekosongan…damai bersamanya adalah kedamaian adipuncak…jika damai tak lagi mewangi, maka aromanya tak merebak lagi bak kesturi yang mengintip keheningan malam…sekali lagi…sang penabur citra melirih…
damai itu wangi seindah rasanya…ah…damai benar-benar semakin mencumbu, bisiknya kemudian….
No comments:
Post a Comment