Ia tertegun…menggemuruh benaknya dipayungi kedamaian. Desau decak kagumnya menafikan sang pemberi eksistensi. Gelegar bahana berkumandang agung bagai bestari beraroma kesturi. Terdampar dalam keterkoyakan sajian hidangan mistik…tatapan memesonakan lusuhnya yang semakin terkapar.
Kelugasan kata-kata berdebu tertimpa deru yang berkobar megah..sang penabur citra merasakan keterkoyakan yang mendalam.. nanar menghujam di kedalaman rasanya. Rebahlah jazadnya menggelepar menahan rindu dendamnya. Rebahlah nafasnya menanti elusan tangannya. Belaiannya membekukan repihan-repihan batinnya.
Sebijak dirinya merebahkan egonya, maka sebijak itu pula Ia mendekapnya. Seindah Ia merangkulnya, maka seindah itu pula ia mencitrainya. Mewujudlah segenap kosakata dari air jiwanya, remuk terpejam letihnya menanti hembusan nafasnya.
Bertaburanlah segenap citra membentuk kelopak-kelopak cinta. Menebarlah pesonanya bersimbah wangi bijaknya. Citra tak bergeming dalam polesannya, citra mewangi dalam lirih bisikannya, citra tertabur lalu tersemaikanlah benih kasih sayangnya. Sendu menguliti keabadian sang penabur citra, seakan malam pekat selamanya. Pilu menggerogoti ketiadaan sang penabur citra, seakan gulita takkan pernah berakhir.
Hanya satu yang mampu membuat dia bangkit dari kesenyapan jiwanya…hanya satu yang mampu menegarkan kembali rindunya…hanya satu yang mampu membuat wanginya tangguh kembali…dialah Sang Penabur Citra..
No comments:
Post a Comment